Aksi Dua Gereja, Gereja Damai vs Gereja Hawa Nafsu

Jika ada pemimpin gereja Katolik se-Oseani yang telah menentukan pernyataan yang menyatakan tak bersikap perihal penentuan nasib sendiri bagi Papua, dengan alasan, “bila  agenda tentang Papua hanya berfokus pada soal aspirasi merdeka, dapat mengaburkan hal lain yang dianggap lebih penting” dan kemungkinan “perhatian untuk menegakkan dan memperkuat institusi demokrasi lokal dapat diabaikan.”  Kami yang mendengar hal tersebut merasa bahwa kami telah mendengar suara Tuhan sebab berupa suara perdamaian yang menyejukkan. Tentu inilah gereja yang harus jadi panutan kita.

Namun, suara damai Tuhan hendak dihapus oleh suara hawa nafsu kesesatan yang itu dalam pertemuan para pemimpin gereja-gereja Pasifik di Auckland, Selandia Baru, yang salah satunya  rekomendasi untuk penentuan nasib sendiri atau referendum bagi rakyat Papua. Sebuah rekomendasi yang mengusik kedamaian dengan api permusuhan bagi sesama anak bangsa, sesama anak Papua. Beginilah jika gereja telah diisi dengan suara kesesatan.

Kita menyadari bahwa sering kali agama untuk menyeret kepada perpecahan dan itu merupakan bentuk kesesatan yang tidak pernah disampaikan oleh Yesus. Oleh karena itu,  Pacific Conference of Church (PCC),  yang berkantor pusat di Suva, Fiji,  harus dijauhi oleh generasi Papua yang sedang berada di luar negeri. Tentu saja tidak dibenarkan dengan memotong dan mengutip pernyataan Pdt Martin Luther King dengan mengatakan “Tak ada yang merdeka bila tidak semuanya merdeka” maksudnya adalah sebuah pulau untuk merdeka.

Mengaitkan kalimat merdeka   Pdt Martin Luther King dengan Papua merdeka tidak tepat bahkan justru salah dan sesat. Kami tidak habis pikir, para pendeta yang tergabung dalam PCC,  kami pikir,  para orang pintar dan kami orang Papua harus hormat. Ternyata sebaliknya, kami orang Papua lebih pintar dari para pendeta yang tergabung dalam PCC tersebut.

Kami diajarkan bahwa, apa yang Martin Luther maksudkan ketika berbicara tentang kebebasan – pada awalnya, dengan cara yang sangat tradisional. Baginya, kebebasan bebas dari hukum dosa di satu sisi, dan dari dosa hukum  di sisi lain. Selain itu, kebebasan dimaksudkan untuk dibebaskan dari rasa takut harus melakukan keadilan kepada Tuhan dari pencapaian religius seseorang dan tidak pernah dapat memenuhinya. Pengalaman pembebasan ini melalui wawasan bahwa manusia menjadi benar dihadapan Tuhan bukan dengan perbuatannya sendiri, namun hanya dengan iman, disambut oleh Luther dengan kata-kata: “Kemudian saya merasa benar-benar baru lahir, dan melalui gerbang terbuka saya melangkah ke surga itu sendiri. ”

Untuk itu, kami menyerukan para pemuda pemudi Papua untuk tidak mendatangi para pemimpin gereja yang menyesatkan dan mengadu domba anak-anak Papua yaitu  Gereja Anglikan Melanesia, Keuskupan Anglikan Polinesia, Uskup Katolik di Papua Nugini dan Kepulauan Solomon, Gereja Kristus Vanuatu, Gereja Kristen Kongregasi di Samoa, Gereja Kristen Kepulauan Cook, Gereja Lutheran Injili Di Papua Nugini, Ekalesia Kelisiano Tuvalu, Ekalesia Kerisiano Niue, Gereja Injili di Kaledonia Baru dan Kepulauan Loyalitas, Dewan Gereja Fiji, Perserikatan Gereja di Papua Nugini, Dewan Gereja Papua Nugini, Gereja Presbyterian Vanuatu, Gereja Wesleyan Gratis Dari Tonga, Samoa National Council of Churches, Etaretia Porotetani Maohi, Gereja Methodis di Fiji dan Rotuma, Gereja Presbyterian St. Andrews, Kiribati Uniting Church, Nauru Congregational Church dan the Methodist Church of Samoa.

Terakhir kali , kami menyeru  Pdt Dr. Tevita Havea, dan Sekretaris Jenderal, Pdt Francois Pihaatea PCC beserta 27 gereja, sembilan dewan gereja di 17 negara kepulauan dan teritori untuk, mohon mohon maaf,  memperbaiki imannya dan kembali kepada cinta kasih dan damai Yesus.

Komunitas Satu Jiwa Satu Raga

Advertisements

Swim for West Papua Team done by a Mental Trauma Person

To be the attention all of our brothers in Papua, that there is a program of swimming for West Papua team on August 29, 2017 that does not need to be heard, because they just want to break up  our two quiet and peaceful  Papua provinces. We should respond by explaining that we Papuans have received justice from both central government in Jakarta and our provincial leaders in Papua.

Therefore, they are all who involved in swimming at  Chateau Chillon could not be heard any of their opinion. For example, Abby who is swimming at Chatae Chillon is not healthy person, because of experiencing physical and mental trauma when she was young due a solo swim from England to France in a time of 14 hours and 43 minutes.

Thank God who has given us peace and kept us away from a bad guy or a mentally damaged person who is seen swimming in Chateau Chillon.

Kala Engkau Lari dari Bhinneka Tunggal Ika, Suatu Saat Engkau Pasti Kembali

“Orang-orang, baik dirinya atau nenek moyangnya yang pernah mendengarkan ajaran berbeda-beda tetapi satu jua (Bhinneka Tunggal Ika),  yang kemudian mengingkarinya, maka mereka akan datang kembali untuk hidup dalam Bhinneka Tunggal Ika tersebut” (Merem)

Pepatah di atas tidak berlebihan. Hal itu terbukti ketika bertepatan HUT Kemerdekaan RI ke-72, sebanyak 77 orang mantan anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Kabupaten Kepulauan Yapen turun gunung dan menyatakan kembali ke NKRI.  Tidak main-main jumlahnya, mantan anggota OPM ini bersama 300 simpatisan OPM menyatakan ikrar kesetiaan kepada Bhinneka Tunggal Ika. Mereka berasal dari dua kelompok, yakni kelompok TPN-OPM wilayah Yapen Timur pimpinan Kris Nussy Sineri alias Coromis dan kelompok TPN-OPM wilayah Yapen Utara pimpinan almarhum Maikel Marani.

Selain menyatakan ikrar setia kepada NKRI, mereka juga menyerahkan 32 pucuk senjata api (untuk pimpinan TPN-OPM wilayah Yapen Timur, Kris Nussy Sineri menyerahkan dua pucuk pistol organik) dan satu bendera Bintang Kejora yang diserahkan secara simbolis oleh Kris Nussy Sineri alias Coromis kepada Apkam setempat. Bahkan kejadian tersebut adalah tahap ketiga penyerahan senjata yang dilakukan OPM dimana sebelumnya pernah terjadi di Pegunungan pada bulan Maret dan di Puncak Jaya pada Juli 2017.

Itulah mengapa, apa yang diupayakan oleh Benny Wenda adalah sia-sia dan hanya sebagai petualangan Benny Wenda  yang gila hormat dan upaya untuk mengumpulkan dana bagi dirinya. Sering kawan-kawan mengeluhkan langkahnya sendiri dan meragukan bahwa dirinya akan sampai tua melakukannya sebab sering terlntas dalam pikiran Benny Wenda bahwa suatu saat dirinya akan berhenti dan kembali ke Bhinneka Tunggal Ika  sebagaimana dilakukan oleh Messet yang juga kembali ke Bhinneka Tunggal Ika. Tidak dapat dipungkiri bahwa Tuhan menciptakan kita berbeda kulit dan warna, namun Tuhan menyatukannya “Berbeda-beda Tetapi Satu Jua”.

(Satu Jiwa Satu Raga)

Ucapan Selamat Kepada Perdana Menteri Papua New Guinea Hon. Peter O’Neill MP

Kami dari Komunitas Papua “Satu Jiwa Raga” mengucapkan selamat atas terpilihnya Hon. Peter O’Neill MP pada tanggal 3 Agustus 2017 sebagai Perdana Menteri Papua New Guinea dan kami berharap dapat membawa hubungan yang lebih baik dengan Indonesia, bukan sebaliknya memecah belah kami suku Papua dengan mendorong kami mengatakan bahwa ada pelanggaran HAM di Papua yang dilakukan oleh militer Indonesia, padahal pelanggaran HAM itu tidak terjadi. Papua sangat damai yang mana kami suku Papua dapat bekerja dengan nyaman setiap hari.

Dengan ini kami juga menyampaikan harapan sekiranya saudara-saudara kami yang tersesat yang saat ini menjadi bagian dari  West Papua Revolutionary Army yang bersembunyi di hutan-hutan rimba New Guinea sekiranya dapat dibamtu disadarkan kembali,  sehingga dapat menjadi manusia sejahtera , yang dapat  bersama sama membangun toleransi dalam wadah Bhinneka Tunggal Ika yang kami yakini. Pernah kami berkomunikasi dengan pengikut-pengikut mereka, bahwa mereka telah bosan tinggal di hutan New Guinea hingga 50 tahun lamanya untuk membodohi  anak-anak mereka sehingga tidak dapat menyenyam hidup layak.

Sungguh kami meyakini bahwa Mathias Wenda telah dikutuk Tuhan Pencipa Alam hingga ia bertobat, karena menyebarkan kebencian di hati-hati pengukutnya, sedangkan Tuhan ingin hati kita bersih dan hidup bersama dengan siapapun. Jangan biarkan  mereka yang tinggal di hutan rimba New Guinea lebih tersiksa lagi lebih lama dengan memimpikan negara utopia yang ingin diwujudkan. Sesungguhnya kami merasa kasihan dengan mereka yang di hutan itu, sudah waktunya mereka kembali ke masyarakat dan bersama-sama dalam kesejahteraan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika yang telah dipersembahkan Tuhan Pencipta Alam kepada kita semua.

                                                                                                                                 Hormat kami,

                                                                                                      Merem

Pimpinan Komunitas Papua “Satu Jiwa Satu Raga”.